Just another WordPress.com weblog

Mereka Yang Bertahan Di Tengah Krisis

Well this isn’t about the politics, but it’s all about music. Barusan abis baca” majalah jadul di rak dan menemukan majalah Rolling Stone, Edisi Maret 2008, dan saya menemukan beberapa topik yang menarik untuk dibahas, atau mungkin sekedar ingin mengutip saja tanpa mengurangi atau menambah isi artikelnya. Diantara adalah tentang sepak terjang industri rekaman yang didominasi oleh “rasa baru” dan cenderung menenggelamkan para musisi” lawas. Berikut artikel lengkapnya.

Komitmen adalah sesuatu yang harus digenggam dalam kesinambungan waktu. Ia berbeda dengan trend yang sifatnya cenderung bergerak cepat. Mempertahankan komitmen disaat industri rekaman centang perenang sungguh bukan pekerjaan mudah. Bukan cuman trend yang arahnya sulit ditebak, tetapi juga perilaku pasar. Akibatnya banyak nama yang tersingkir. Untuk menyebut beberapa diantaranya, kita kehilangan Edane yang begitu kukuh pada nafas hard rock, atau Puppen dengan alternativenya. Kita juga kehilangan Sheila On 7 yang pada album-album terakhirnya justru memperlihatkan keseriusan dalam menggarap tema lagu mau pun musikalitas.

Untuk dapat bertahan pada sub kultur pop yang bersifat temporer, sebuah band dituntut kemampuan beradaptasi tanpa harus mengorbankan identitas. Beberapa nama mencoba melakukan hal itu. Selain Samsons, Slank, The Rocks, Andra & The Backbone serta Naif, masih ada sejumlah sosok yang tetap eksis di tengah situasi industri musik yang makin memburuk. Ungu, misalnya, kembali melanjutkan kisah sukses Melayang (2005) dengan merilis Untuk Selamanya (2007). Perubahan perilaku pasar juga nampaknya tak berhasil menyentuh GIGI. Mereka berada dalam sebuah situasi mapan dimana membanjirnya para new comer tak sampai menggoyang eksistensinya. Bahkan konser tunggalnya di lapangan Kridosono pada 11 Januari lalu terbilang fenomenal. Bukan hanya berlangsung tanpa sponsor, melainkan dalam jumlah penonton yang membeludak di luar dugaan. Sumber di Sony BMG menyebut angka 800.000 download untuk dua singel mereka, “Nakal” dan “11 Januari”. Albumnya sendiri, Peace, Love & Respect, terjual sebanyak 80.000 keping untuk sejak ditulis dirilis Juli 2007.

Kemunculan Padi yang cukup lama menghilang sungguh mengobati kerinduan para penggemarnya yang sempat terkaget-kaget oleh Save Our Soul dulu. Album Tak Hanya Diam yang dirilis pada November 2007 hingga kini kaset 100.000 keping. Dengan dua buah singel, “Sang Penghibur” dan “Jangan Datang Malam Ini”, mereka telah menggaet setidaknya 800.000 pengguna RBT. Tidak buruk jika dikaitkan dengan konteks untuk merebut kembali simpati para Sobat Padi. Mereka menjadi contoh kongkret sebuah band yang bangkit dari kegagalan masa lalu.

Upaya tetap berkibar dengan memanfaatkan momentum sukses album sebelumnya kini tengah dilakukan Nidji. Album kedua, Top Up, tetap menebar nuansa British. Ini bisa dibuktikan oleh “Biarlah” yang enerjik. Sementara pada “Penantian” duet Andro dan Andri terdengar memikat perhatian melalui permainan kompak mereka. Meski terdapat progres chord yang mengingatkan pada “Child In Time”-nya Deep Purple, lagu ini cocoklah ditempatkan pada urutan pertama sebagai gimmick untuk menggiring pendengar ke lagu selanjutnya yang umumnya diaransemen dengan apik.

Letto yang sejak awal kemunculannya melakukan taktik silence in action juga masih mendapat tempat tersendiri. Band ini terkesan anteng seperti halnya lagu-lagu mereka yang terdapat di album terbaru, Don’t Make Me Sad. Peterpan, setelah perpecahannya yang menjadi obyek infotainment, juga berusaha mengulang kembali kisah sukses mereka. Hanya saja, Ariel dan kawan-kawan bangkit ketika industri rekaman sudah dibanjiri pasar pendatang baru. Jalan tak semulus seperti ketika dulu memulai gebrakan. Salah satu pendatang baru yang berhasil merebut perhatian adalah Drive. Band ini langsung mencorong ketika singel keduanya, “Bersama Bintang”, menjadi theme song sinetron Candy. Penjualan lagu digitalnya mencapai angka diatas 1 juta download.

—————-

Dikutip dari majalah Rolling Stone, Edisi “Petaka Dunia Musik Indonesia” Maret 2008.

Comments on: "Mereka Yang Bertahan Di Tengah Krisis" (1)

  1. dengan merujuk cara penulisan lo, coba kirim ke media cetak…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.